Akankah ada perubahan ekonomi pada suku Baduy yang tidak menerima modernisasi?

 Akankah ada perubahan ekonomi di suku Baduy yang tidak menerima modernisasi?


    Hallo teman-teman semuaa, perkenalkan nama saya Kasih Binariang Hulu dari SMAs Kristen BNKP Gunungsitoli. Dicerita kali ini, saya akan menceritakan tentang kehidupan ekonomi di masyarakat suku Baduy.

     Nah, pasti teman-teman sudah tidak asing lagi dengan yang namanya suku Baduy karena akhir" ini suku Baduy tengah menjadi sorotan di mata publik. Masyarakat Baduy berada di Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Provinsi Banten.

    Teman-teman semua pasti bertanya, masyarakat suku Baduy mendapatkan pendapatan darimana? sedangkan suku Baduy sendiri menutup diri dengan dunia luar dan suku Baduy tidak menerima modernisasi atau perkembangan globalisasi yg sedang terjadi di masa sekarang.

    Jadi, masyarakat Baduy masih menggunakan prinsip atau cara tradisional untuk mencukupi perekonomian mereka. Kenapa demikian? ternyata, akses dan kondisi lingkungan di suku baduy tidak cocok untuk pertanian modern atau industrialisasi karena pertanian suku Baduy merupakan lahan kering dan dilahan yang miring. Oleh karena itu, mereka menerapkan dan mengandalkan hasih pertanian tradisional seperti bersawah, berternak, dan berburu. Dan ada juga gadis Baduy yang menenun kain sebagai sumber penghasilan.

Gadis Baduy yang sedang menenun kain.

Contoh lahan masyarakat Baduy (lahan kering dan lahan miring)

   Tapi kenapa ya? suku Baduy lebih memilih prinsip tradisional? apa karena lingkungan? atau karena aturan adat yang sangat ketat disana?

     Nah, ternyata ada beberapa faktor kenapa suku Baduy masih memilih prinsip atau cara tradisional dalam memajukan perekonomian mereka. Beberapa faktornya yaitu :

1. Suku Baduy memiliki sifat kemandirian yg sangat tinggi. Mereka berusaha tetap hidup dari hasil tanah mereka sendiri dan sumber daya alam lainnya yg berada di lingkungan suku Baduy. Suku Baduy mempunyai kewajiban dalam melindungi wilayah hutan yang berada di wilayah mereka. Masyarakat suku Baduy menganggap hutan sebagai sumber kehidupan mereka karena hutan itulah yang memberikan mereka makanan, minuman, dan keberlangsungan anak cucu mereka.

2. Isolasi sosial suku Baduy terhadap dunia luar yang menyebabkan suku Baduy sulit untuk mengalami perubahan ekonomi secara modern. Bentuk modernisasi yang mereka tolak yaitu, tidak menggunakan kendaraan, tidak menggunakan alas kaki, dan adat tidak memperbolehkan mereka untuk sekolah.

3. Masyarakat baduy selalu menolak dan membatasi budaya serta teknologi asing yang baru mereka ketahui yang membuat mereka tetap mempertahankan cara hidup secara tradisional.

    Setelah mengetahui faktor penyebab suku Baduy masih mempertahankan prinsip tradisional, pasti banyak muncul pertanyaan dalam benak teman-teman semua, apakah cara mereka berhasil untuk mencukupi kebutuhan ekonomi mereka?

    Nah, ternyata perekonomian masyarakat suku Baduy berada dibawah tekanan yang sangat tinggi dan besar akibat laju pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan lahan yang dimiliki oleh suku Baduy sendiri. Pemerintah juga sempat memberikan beberapa upaya dan solusi terhadap suku Baduy namun tidak ada perubahan yang signifikan karena masyarakat Baduy menolak adanya modernisasi di wilayah mereka.

    Apakah sampai detik ini, suku Baduy menolak apapun modernisasi atau perubahan dari luar?

   Jadi, akhir-akhir ini masyarakat Baduy khususnya Baduy luar sudah mulai menerima kunjungan dari orang asing, dari sana juga mereka bisa mendapatkan penghasilan dari hasil penjualan kain yang telah mereka tenun. Masyarakat suku Baduy luar juga sudah menerima beberapa modernisasi seperti alat komunikasi (Handphone). Meski demikian, suku Baduy luar tetap menjalankan tradisi adat yg sudah ada dan mereka warisi secara turun-temurun.

   Lalu, bagaimana dengan masyarakat suku Baduy dalam? nah, suku Baduy dalam sangat menolak adanya modernisasi, mereka menerima orang asing, tapi masyarakat yang berkunjung tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi atau alat untuk mendokumentasikan seperti handphone dan kamera.

   Suku Baduy dalam juga menolak rombongan orang asing karena rumah mereka dibuat dan direkatkan tanpa paku dan semen.

    Rumah mereka terbuat dari bahan kayu, bambu, ijuk, dan daun pohon aren. Karena bagi mereka sikap dan bentuk tradisi tidak dapat di ubah dan mutlak tradisi adat.

    Sejak tahun 1970, Masyarakat Baduy telah menerima perekonomian pasar yang dimana mereka menggunakan uang tunai sebagai alat transaksi, tetapi didalam lingkup keluarga mereka juga masih menggunakan sistem barter untuk mendapatkan sesuatu.

Huhuuuu, ceritanya selesai.
Tapi jangan sedih guys, kedepannya saya akan bercerita lagi tentang hal-hal unik yang ada di Indonesia.
Jadi, jangan bosan yaa baca ceritaku 🙏🏻
Maaf jika ada salah dalam penulisan dan penggunaan bahasa yg saya gunakan, karena saya masih belajar untuk ini 🙏🏻
Terimakasih semuanya, Byeeeeee


    

Komentar

  1. Sangat menarik untuk di baca
    Good luck

    BalasHapus
  2. Woww,. Keren abis kak👌,.
    Tetap semangat dan tetap menyala👏🔥

    BalasHapus
  3. Kerenn
    Semangatt..

    BalasHapus
  4. Keren banget, mantap👏

    BalasHapus
  5. Keren bnget . Tetap semangat

    BalasHapus
  6. Mantap ! kasih binariang hulu,Tetap semangat💪

    BalasHapus
  7. Weshh keren bangett👏👏

    BalasHapus
  8. Keren kali tempat semangat 🙏

    BalasHapus
  9. ih bagus banget🔥

    BalasHapus
  10. Keren anak muda👍

    BalasHapus
  11. Keren banget sih ini👍

    BalasHapus
  12. mohola adekku 🔥

    BalasHapus
  13. Informasi nya menarik

    BalasHapus
  14. Kerenn nya 🔥👍🏻

    BalasHapus
  15. Keren dan menarik 🤟

    BalasHapus
  16. Bah, keren kli ketos 🔥

    BalasHapus
  17. Keren dan mantap🔥

    BalasHapus
  18. Semangat kak🔥😁

    BalasHapus
  19. Tetap semangat💪

    BalasHapus
  20. Sangat di mengerti😊

    BalasHapus
  21. Topik yg bagus🙂

    BalasHapus
  22. Mantap anak muda👌

    BalasHapus
  23. Semangat ketoss💪

    BalasHapus
  24. Baduy memang bagus👌

    BalasHapus
  25. semangat kak kasih👊

    menyala ketos👍🔥

    BalasHapus
  26. Hopp, menyala tanteku🔥

    BalasHapus
  27. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keberhasilan Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Wonogiri, Jawa Tengah.